 |
| Kabupaten Karangasem |
Dalam menguraikan sejarah Kerajaan Karangasem, ada dua buah buku sumber
yang dipakai sebagaimana yang ditulis oleh Agung (1991) dan Agung
(2001). Nama ‘Karangasem’ sebenarnya berasal dari kata ‘Karang Semadi’.
Beberapa catatan yang memuat asal muasal nama Karangasem adalah seperti
yang diungkapkan dalam Prasasti Sading C yang terdapat di Geria Mandara,
Munggu, Badung. Lebih lanjut diungkapkan bahwa Gunung Lempuyang yang
menjulang anggun di timur laut Amlapura, pada mulanya bernama Adri
Karang yang berarti Gunung Karang. Pada tahun 1072 (1150 M) tanggal 12
bulan separo terang, Wuku Julungwangi dibulan Cetra, Bhatara Guru
menitahkan puteranya yang bernama Sri Maharaja Jayasakti atau Hyang
Agnijaya untuk turun ke Bali. Tugas yang diemban seperti dikutip dalam
prasasti berbunyi” gumawyeana Dharma rikang Adri Karang maka kerahayuan
ing Jagat Bangsul…”, artinya datang ke Adri Karang membuat Pura (Dharma)
untuk memberikan keselamatan lahir-batin bagi Pulau Dewata. Hyang
Agnijaya diceritakan datang berlima dengan saudara-saudaranya yaitu
Sambhu, Brahma, Indra, dan Wisnu di Adri Karang (Gunung Lempuyang di
sebelah timur laut kota Amlapura). Mengenai hal ihwal nama Lempuyang
adalah sebagai tempat yang terpilih atau menjadi pilihan Bhatara Guru
(Hyang Parameswara) untuk menyebarkan ‘sih’ Nya bagi keselamatan umat
manusia. Dalam penelitian sejarah keberadaan pura, Lempuyang dihubungkan
dengan kata ‘ lampu’ artinya ‘terpilih’ dan ‘Hyang’ berarti Tuhan;
Bhatara Guru, Hyang Parameswara. Di Adri Karang inilah beliau Hyang
Agnijaya membuat Pura Lempuyang Luhur sebagai tempat beliau bersemadi.
Lambat laun Karang Semadi ini berubah menjadi Karangasem.
Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'