Tampilkan postingan dengan label Cerita dan Legenda Umat Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita dan Legenda Umat Hindu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Desember 2015

Bhagawan Drona dan Dewi Wilutama

Bhagawan Dronacarya
Bhagawan Wraspati mempunyai putra bernama Baradwaja yang pernah memerintah di Negeri Antasangin. Tatkala memasuki masa wanaprastha, ia melaksanakan tapa sebagai Brahmana Pandita di tengah hutan, berita ini terdengar oleh sahabatnya, Raja Pancala. Ia begitu terharu, karena ia tahu, sahabatnya masih mempunyai putra yang masih bocah bernama Kanwa dan Kumbayana.

Akhirnya, ia putuskan untuk menitipkan putra mahkotanya, Sucitra, yang juga masih usia kanak-kanak padanya. Untuk diberikan pendidikan ilmu kawisesan. Sucitra, sangat senang berguru pada Rsi Baradwaja. Di mata Sucitra, Baradwaja adalah sosok ayah yang penuh perhatian. Begitu pula Kanwa dan Kumbayana sahabat kecilnya, selalu mengalah dan memanjakannya. Terlebih-lebih Kumbayana, ia merasakan adanya rasa melebihi sosok saudara. Sucitra mewarisi ilmu kepemimpinan dari Baradwaja. Sedangkan Kumbayana yang rajin berlatih kanuragan, mewarisi ilmu memanah dari orangtuanya. Sekian tahun, mereka bersama. Akhirnya, tiba saatnya mereka berpisah. Raja Pancala menjemput putranya.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Kamis, 15 Januari 2015

Dewa Ganesha

Sumber gambar : tokopedia.com/airawatabali
Banyak kisah tentang kelahiran Dewa Ganesha, dari kisah yang menyangkut dengan gajah Dewa Indra dan kisah tentang Dewa Ganesha yang terlahir dari kesaktian Dewi Parwati. Berikut paparan kisah singkat kelahiran Dewa Ganesha menurut Shiva Purana.

"Dalam masa Sveta Varaha Kalpa, dikisahkan bahwa Jaya dan Wijaya merupakan sahabat Dewi Parwati mendiskusiksn tentang hasrat Dewi Parwati. Atas saran kedua sahabat tersebut, Dewi Parwati menciptakan seorang putra dari debu tubuh kosmiknya yang akan direncanakan untuk memimpin semua Gana Shiva, dan seraya berkata :
“Harus ada putraku yang harus menunaikan tugasnya dengan sangat cermat. Ia tidak mesti mematuhi perintah – Ku”.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Kamis, 05 Juni 2014

Kisah Kehidupan Karna, Dikehidupan Sebelumnya

Karna
Karena Blog ini semakin banyak pengunjungnya, maka kami akan update lagi mengenai cerita - cerita Umat Hindu. "Kisah Mahabharata", siapa yang tidak mengenal kisah yang maha besar ini, banyak filsafat hidup dan etika kebenaran yang terselip didalamnya. Lebih lagi kisah ini sekarang telah ditayangkan dalam bentuk Film Berseri di India, yang digarap oleh Star Plus. Dan kini sudah ditayangkan di Indonesia. Setiap tokoh dalam Kisah ini, sangat berbeda beda dan memiliki karakter tersendiri. Nah, kali ini kami akan ceritakan mengenai Tokoh Karna, Kehidupan Masa Lalu Karna sebagai Asura Sahasrakavacha. Berikut kita simak ceritanya :)

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Rabu, 31 Juli 2013

Kisah Leela dan Dewi Saraswati

Dewi Saraswati
Pada suatu waktu di bumi ini hidup seorang raja yang bernama Padma yang teramat bajik dalam segala perilakunya. Istri beliau bernama Leela, dan ratu ini bersifat sangat luhur, mereka saling sayang-menyayangi satu dengan yang lainnya. Pada suatu hari ratu melaksanakan sebuah yajna demi Dewi Saraswati agar suaminya dikaruniai dengan keabadian.

Sang ratu kemudian berpuasa berat dan memohon dua hal kepada sang dewi, yaitu pertama : Setelah meninggalnya sang raja maka jiwanya akan selalu tinggal di istana, dan yang kedua : sang ratu memohon dharsana dari sang dewi Saraswati. Dewi Saraswati mengabulkan kedua permohonan tersebut, dan konon sang raja pada suatu saat terbunuh di dalam suatu laga dan jasadnya disemayamkan di istana. Sang ratu meratap tanpa henti-hentinya, dan pada saat tersebut Dewi Saraswati menunjukkan dharsananya dan berkata : “janganlah bersedih, karena semua ini adalah sesuai dengan permintaanmu, jiwa suamimu akan senantiasa hadir di istana ini. Taburkanlah bunga-bunga di atas jasad suamimu, dan semua bunga ini akan tetap segar sampai saatnya dikau menemuinya lagi”.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Jumat, 26 Juli 2013

Raja Bali, Dalem Waturenggong

Dalem Waturenggong (1460-1550 M)
Dalem Waturenggong atau "Watu Renggong" adalah putra dari Dalem Ketut Ngulesir sebagaimana disebutkan dalam Babad Bali, Dalem Waturenggong memiliki putra yang salah satunya bernama Ida I Dewa Pemahyun (Dalem Bekung) dan Ida I Dewa Dimade (Dalem Sagening).
Diceritakan setelah wafatnya ayah beliau Dalem Ketut Ngulesir pada tahun 1460 sebagaimana dijelaskan dalam kutipan sejarah Pemecutan Bedahulu, Dalem Waturenggong lah yang disebutkan menggantikan kedudukan beliau sebagai Raja di Kerajaan Gelgel dengan kekuasaan penuh terhadap Pulau Bali. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong Kerajaan Bali mencapai masa keemasannya hal tersebut tercapai berkat kebijaksanaan beliau dalam mengatur pemerintahan dan penegakan hukum serta perhatian beliau terhadap kesejahteraan rakyat. Begitu juga orang orang Bali aga (asli) diberikan kedudukan dalam pemerintahan dan diperlakukan secara adil.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Kamis, 25 Juli 2013

Sejarah Dalem Sidakarya

Topeng Sidakarya
Di suatu desa / daerah yang bernama Keling ada pendeta yang sangat termahsyur tentang kebenaran utama yang mempunyai “Ilmu Kelepasan Jiwa”. Disebut Brahmana Keling karena beliau berasal dari Daerah Keling, Jawa Timur. Beliau juga mendirikan pesraman / pertapaan di lereng Gunung Bromo. Brahmana Keling adalah putra dari Danghyang Kayumanis, cucu dari Empu Candra, kumpi dari Mpu Bahula dan cicit dari Empu Beradah. Tetapi sampai saat ini belum ada yang tahu nama beliau yang sebenarnya, karena beliau berasal dari Keling maka beliau disebut “Brahmana Keling”.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Sabtu, 27 April 2013

Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling

Berikut akan diulas secara singkat kisah Sugra Pakulun “Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling”, yang didapat dari berbagai referensi. Selamat membaca :)

Hiduplah seorang Pangeran yang bertempat tinggal di Gunung Kila, yang bernama Pangeran Jumpungan. Pangeran Jumpungan menjadi seorang Pendeta, sehingga mempunyai gelar Dukuh. Dukuh Jumpungan memiliki keahlian dalam hal membuat perahu, sehingga beliau membuat loloan di Nusa Penida dan di Ceningan. Dukuh Jumpungan mempunyai istri yang bernama Ni Puri. Dari perkawinannya ini melahirkan Pangeran Merja. Pangeran Merja mempunyai istri yang bernama Ni Luna, dari perkawinannya terlahir Pangeran Undur dan seorang putri yang bernama Dyah Ranggini. Pangeran Undur mempunyai istri bernama Ni Lumi, sedangkan sang putri diambil istri menjadi permaisuri oleh Dalem Sawang. Dari perkawinan Pangeran Undur lahirlah Pangeran Renggan. Keturunan Dukuh Jumpungan yang lain adalah Pangeran Jurang yang beristri Ni Jarum bertempat di Bukit Biye, Ni Luh Puri di Goa Lawah, Pangeran Yangga di Padang, Ni Runa di Sakenan dan Pangeran Cenes di Segara.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Minggu, 26 Agustus 2012

Kemunculan Dewi Tulasi


Gambar : Dewi Tulasi
Narada Muni bertanya kepada Tuhan Narayana, "Wahai Bhagavan Yang Mulia! Bagaimana, Tulasi Devi menjadi istri Anda? Darimana dia lahir? Siapa dia dalam kelahiran sebelumnya? Dari keluarga mana asalnya, dan apa austerities dia melakukan ini untuk mendapatkan Anda sebagai suaminya? Anda, yang melampui alam material ini , sumber dari alam semesta itu sendiri, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan yang Mahatahu, penyebab dari segala sebab, pelindung dan pemelihara semuanya. Dan bagaimana bisa Tulasi Devi, menjadi pohon untuk Anda? O, Anda yang dapat menyelesaikan semua masalah, berbaik hatilah untuk menghilangkan keraguan dan pertanyaan2 dalam pikiran hamba ini.

Tuhan Narayana kemudian menjelaskanya kepada Rsi Narada Muni sebagai berikut:
Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Radha Menciptakan Mayapur

Sri Krisnha dan Radha
Di dalam Ananta-samhita, Dewa Siva menjelaskan kepada Dewi Parvati, tentang mengapa Srimati Radharani menciptakan tempat yang bernama Mayapur. Dan HH Bhakti Purusottama Swami kembali menceritakan cerita ini dalam bukunya yang indah, yang berjudul "The Glories & Pastime of Srimati Radharani.". Simak berikut ceritanya..

Seperti halnya seekor lebah yang sedang bermain-main di pohon lotus, begitu juga Krishna yang sedang menikmati hari bersama Viraja di tengah hutan kecil Vrindavana yang menyenangkan. Radhika yang memiliki wajah bagai rembulan dan memiliki mata bagai kijang, mendengar berita ini dari seorang sakhi. Lalu Radhika berlari dengan tergesa-gesa untuk mencari Krishna. Melihat bahwa Radha datang, maka Krishna tiba-tiba saja menghilang dan Viraja berubah menjadi sebuah sungai. Ketika Srimati Radharani tiba di sana Dia tidak dapat menemukan mereka. Lalu Radha mulai berpikir bagaimana cara untuk menarik perhatian Krishna jauh agar dari Viraja.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Senin, 20 Agustus 2012

Asal Mula Desa Trunyan, Kedisan, dan Abang Dukuh

Desa Trunyan, Desa Kedisan, dan Desa Abang Dukuh merupakan desa yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Keberadaan nama ketiga desa tersebut terkait dengan pengembaraan empat orang putra Raja Surakarta ke Bali untuk mencari bau harum yang menyengat. Berikut kisahnya...

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Jumat, 17 Februari 2012

Kumbakarna Yang Suka Tidur

Kumbakarna Tertidur
Ada cerita menarik yang terdapat dalam Utara Kanda bagian dari epos Ramayana, Dalam cerita tersebut dikisahkan, Dewi Saraswati  bersemayam secara gaib di lidah Kumbakarna sehingga dunia terhindar dari kekacauan. Alkisah Resi Waisrawa beristri Dewi Kaikaisi. Pasangan Resi ini berputra empat orang, tiga orang laki dan seorang perempuan. Putra sang resi yang pertama bernama Dasa Muka (Rahwana), kedua Kumbakarna, ketiga bernama Dewi Surpanaka dan yang terkecil bernama Gunawan Wibhisana.


Sang Resi menugaskan putra laki-lakinya supaya bertapa di gunung Gokarna. Ketiga putra Resi Waisrawa itu kemudian membangun tempat pertapaan yang terpisah-pisah di gunung Gokarna. Bertahun-tahun mereka bertapa dengan teguh dan tekunnya. Karena ketekunannya itu, lalu Dewa Brahma berkenan memberikan anugrah.
Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Kumbakarna dan Wibisana

Kumbakarna
Satu cerita tentang kebenaran dan sebuah pilihan, antara kakak beradik Arya Kumbakarna dan Gunawan Wibisana dari kerajaan Alengka. Alkisah pada wiracarita Ramayana, Kumbakarna dan Wibisana ini adalah saudara kandung Rahwana, sang raja Alengka. Masih ada satu orang saudara wanita bernama Sarpakenaka. Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka berwujud raksasa sedangkan Wibisana berwujud manusia. Karena pengetahuan dan kebijaksanaannya, Rahwana menjadikan Wibisana sebagai penasihat utama kerajaan.
Suatu hari Rahwana jatuh cinta pada Sinta, permaisuri Rama, raja Ayodya. Dia berusaha dengan segala macam cara untuk mendapatkan Sinta, hingga suatu hari dia menyamar menjadi seekor rusa, menyelinap ke hutan di kerajaan Ayodya dan menculik Sinta. Ia ditaruh di istana milik Wibisana, ditemani oleh Trijatha, putri Wibisana.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Rabu, 30 November 2011

Asal Usul Nama 'Bali'

Pulau Bali
Tahukah nyame Bali bagaimana asal usul nama Bali, tempat berstananya para dewata? Berikut penjelasan singkatnya. Semoga bisa menambah pengetahuan kita.

Kedatangan seorang Maha Rsi Markandeya abad ke-7 memberikan pengaruh besar pada kehidupan penduduk Bali. Beliau adalah seorang pertapa sakti di Gunung Raung, Jawa Timur.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Sejarah Kabupaten Karangasem

Kabupaten Karangasem
Dalam menguraikan sejarah Kerajaan Karangasem, ada dua buah buku sumber yang dipakai sebagaimana yang ditulis oleh Agung (1991) dan Agung (2001). Nama ‘Karangasem’ sebenarnya berasal dari kata ‘Karang Semadi’. Beberapa catatan yang memuat asal muasal nama Karangasem adalah seperti yang diungkapkan dalam Prasasti Sading C yang terdapat di Geria Mandara, Munggu, Badung. Lebih lanjut diungkapkan bahwa Gunung Lempuyang yang menjulang anggun di timur laut Amlapura, pada mulanya bernama Adri Karang yang berarti Gunung Karang. Pada tahun 1072 (1150 M) tanggal 12 bulan separo terang, Wuku Julungwangi dibulan Cetra, Bhatara Guru menitahkan puteranya yang bernama Sri Maharaja Jayasakti atau Hyang Agnijaya untuk turun ke Bali. Tugas yang diemban seperti dikutip dalam prasasti berbunyi” gumawyeana Dharma rikang Adri Karang maka kerahayuan ing Jagat Bangsul…”, artinya datang ke Adri Karang membuat Pura (Dharma) untuk memberikan keselamatan lahir-batin bagi Pulau Dewata. Hyang Agnijaya diceritakan datang berlima dengan saudara-saudaranya yaitu Sambhu, Brahma, Indra, dan Wisnu di Adri Karang (Gunung Lempuyang di sebelah timur laut kota Amlapura). Mengenai hal ihwal nama Lempuyang adalah sebagai tempat yang terpilih atau menjadi pilihan Bhatara Guru (Hyang Parameswara) untuk menyebarkan ‘sih’ Nya bagi keselamatan umat manusia. Dalam penelitian sejarah keberadaan pura, Lempuyang dihubungkan dengan kata ‘ lampu’ artinya ‘terpilih’ dan ‘Hyang’ berarti Tuhan; Bhatara Guru, Hyang Parameswara. Di Adri Karang inilah beliau Hyang Agnijaya membuat Pura Lempuyang Luhur sebagai tempat beliau bersemadi. Lambat laun Karang Semadi ini berubah menjadi Karangasem.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Sabtu, 06 Agustus 2011

Perjalanan Spiritual Bhima Ke Swargaloka

Bhima Swarga
Bhima sebagai tokoh sentral dalam cerita ini mirip Sanjaya dalam Bhagawadgita, yang melaporkan kejadian pandangan mata percakapan Kresna dan Arjuna sesaat menjelang Bharatayudha di Kuruksetra, kepada Drestarastra, Raja yang buta sejak lahir. Kresna menyadarkan kembali Arjuna untuk melaksanakan Swadharmanya. Simbolisasi cerita Bhima swarga ini perlu diketengahkan lagi, semoga mampu menggugah penalaran untuk menyadari swadharmaning masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Cerita ini seperti menitipkan pesan pada kita umat sedharma hendaknya selalu berbuat baik, agar kelak kita memetik phala yang baik pula.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

10 Pesan Dang Hyang Nirartha

10 (sepuluh) pesan dari  Dang Hyang Nirartha :

   1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 )
Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.

   2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 )
Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.

3.  Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 )
Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Minggu, 31 Juli 2011

Kisah Singkat Dewa Ruci dan Sang Bima

Dewa Ruci dan Bima
Cerita ini terjadi saat Pandhawa bersama saudara-saudara sepupunya  Kurawa, yangsedang bersama sama menimba ilmu pada guru yang sama yakni Resi Durna atau Kumbayana. Kurawa yang amat menyadari bahwa tahta kerajaan Astina yang saat itu diduduki ayah mereka, Destrarastra, adalah sekadar titipan dari ayah Pandhawa, Pandu Dewanata yang mati muda. Kalaulah nanti Pandhawa telah dewasa, tahta itu harus dikembalikan kepada mereka. Dan para saudara Kurawa yang berjumlah seratus itu, bakal lontang-lantung jadi preman. Karena itu, sejak awal, Kurawa dengan berbagai jalan berusaha keras untuk melenyapkan Pandhawa,
Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Kisah Singkat Kelahiran Hanoman

Sang Hanoman
Alkisah Hiduplah seorang Raksasha bernama Rahwana. Raksasha itu menjadi sangat sakti karena ia keturunan raja dari para Raksasha dan seorang Rishi yang suci. Bersama saudara-saudaranya dan anak-anaknya ia membuat sebuah kerajaan yang kuat yang bernama Alengka Dirja (Sri Lanka Sekarang), dan siap melebarkan sayap kerajaannya.

Tetapi kekuatan bala pasukannya masih kalah kuat dengan kekuatan Kartavira Arjuna (Arjuna Sasrabhawu), raja dari para manusia yang dikenal sebagai avatara Vishnu bertangan seribu. Selama ada Kartavira Arjuna,
Rahwana tidak bisa berbuat apa-apa.Tetapi peruntungan segera beralih. Kartavira yang ditakuti akhirnya tewas terbunuh oleh Parashu Rama yang notabenenya juga Avatara Vishnu. Maka kini Rahwanaleluasa melebarkan sayap kerajaannya bahkan hingga menyerang kerajaan para dewa!

Kocar-kacir dikalahkan telak oleh para raksasha, para dewa lari ke hadapan Sri Vishnu, memohon agar membantu mereka membinasakan
Rahwana. Vishnu bersedia membantu, asalkan Siwa juga mau membantunya, karena Rahwanaadalah seorang pemuja Siwa. Maka Siwa pun juga bersedia menurun ke dunia membantu penjelmaan Vishnu di dunia. Nah dari sinilah sebenarnya Ramayana dimulai. Begitu juga dengan kelahiran Hanoman bagi sebagian orang.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Asal Mula Nama Buleleng dan Singaraja di Bali

Kabupaten Buleleng
Pada jaman dahulu di Pulau Bali, hidup seorang raja yang bergelar Sri Bagening. Sang Raja memiliki banyak istri, dan istri terakhirnya bernama Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji, dan masih keturunan Kyai Pasek Gobleng. Suatu waktu, Ni Luh Pasek mengandung. Oleh suaminya, ia dititipkan kepada Kyai Jelantik Bogol. Tak berapa lama, anaknya pun lahir. Anak itu diberi nama I Gede Pasekan.  I Gede Pasekan mempunyai wibawa besar sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh pemuka masyarakat maupun masyarakat biasa.

Suatu hari, ketika usianya menginjak dua puluh tahun, ayahnya berkata pada­nya,

 
“Anakku, sekarang pergilah engkau ke Den Bukit di daerah Panji.”
“Kenapa ayah?”

“Karena di sanalah tempat kelahiran ibumu.”

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Kura-Kura dan Angsa

Ada sepasang Kura-Kura dan Angsa yang hidup di sebuah telaga yang bernama telaga Kumudawati. Telaga itu sangat indah serta banyak bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di sana. Kura-kura yang jantan bernama Durbhuddhi dan yang betina bernama Katcapa. Angsa yang jantan bernama Cakrengga dan yang betina bernama Cakrenggi. Kedua pasang binatang itu sudah lama bersahabat.

Musim kemarau telah tiba, di telaga telah mulai mengering. Kedua angsa akan berpamitan dengan sahabatnya karena angsa tidak bisa hidup tanpa air, maka kami akan meninggalkan telaga Kumdawati ini menuju telaga Manasasaro di pegnungan Himalaya. Kura-kura tidak bisa melepaskan kepergian kedua sahabatnya itu.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...