Jumat, 17 Februari 2012

Kumbakarna Yang Suka Tidur

Kumbakarna Tertidur
Ada cerita menarik yang terdapat dalam Utara Kanda bagian dari epos Ramayana, Dalam cerita tersebut dikisahkan, Dewi Saraswati  bersemayam secara gaib di lidah Kumbakarna sehingga dunia terhindar dari kekacauan. Alkisah Resi Waisrawa beristri Dewi Kaikaisi. Pasangan Resi ini berputra empat orang, tiga orang laki dan seorang perempuan. Putra sang resi yang pertama bernama Dasa Muka (Rahwana), kedua Kumbakarna, ketiga bernama Dewi Surpanaka dan yang terkecil bernama Gunawan Wibhisana.


Sang Resi menugaskan putra laki-lakinya supaya bertapa di gunung Gokarna. Ketiga putra Resi Waisrawa itu kemudian membangun tempat pertapaan yang terpisah-pisah di gunung Gokarna. Bertahun-tahun mereka bertapa dengan teguh dan tekunnya. Karena ketekunannya itu, lalu Dewa Brahma berkenan memberikan anugrah.
Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Purnama Dan Tilem


Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu, dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. Hari Purnama, sesuai dengan namanya, jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali.

Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra, sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya. Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan:

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Kumbakarna dan Wibisana

Kumbakarna
Satu cerita tentang kebenaran dan sebuah pilihan, antara kakak beradik Arya Kumbakarna dan Gunawan Wibisana dari kerajaan Alengka. Alkisah pada wiracarita Ramayana, Kumbakarna dan Wibisana ini adalah saudara kandung Rahwana, sang raja Alengka. Masih ada satu orang saudara wanita bernama Sarpakenaka. Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka berwujud raksasa sedangkan Wibisana berwujud manusia. Karena pengetahuan dan kebijaksanaannya, Rahwana menjadikan Wibisana sebagai penasihat utama kerajaan.
Suatu hari Rahwana jatuh cinta pada Sinta, permaisuri Rama, raja Ayodya. Dia berusaha dengan segala macam cara untuk mendapatkan Sinta, hingga suatu hari dia menyamar menjadi seekor rusa, menyelinap ke hutan di kerajaan Ayodya dan menculik Sinta. Ia ditaruh di istana milik Wibisana, ditemani oleh Trijatha, putri Wibisana.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Rabu, 15 Februari 2012

Dewa Siwa


Dewi Parwati, Dewa Siwa dan Dewa Ganesha
Çiwa dalam mitologi Hindu dikenal sebagai Dewa tertinggi dan memiliki banyak Bhakta (Pemuja). Mitos Çiwa dapat dijumpai dalam beberapa kitab suci agama Hindu, yakni kitab-kitab Brāhmana, Mahābhārata, Purāna, dan Āgama.Dalam kitab Hindu tertua, Weda Samhita, walaupun nama Çiwa sendiri tidak pernah dicantumkan, tetapi sebenarnya benih-benih perwujudan tokoh Çiwa itu sendiri telah ada, yaitu Rudra.

Kelahiran Rudra
Kitab Satapatha-Brāhmana, menceritakan tentang kelahiran Rudra. "Diceritakan bahwa ada seorang kepala keluarga bernama Prajapati yang memiliki seorang anak laki-laki. Sejak lahir, anak itu menangis terus, dia merasa tidak terlepaskan dari keburukan karena tidak diberi nama oleh ayahnya. Kemudian Prajapati memberinya nama Rudra, yang berasal dari akar kata rud yang artinya menangis".

Kisah kelahiran Rudra ini bisa dijumpai pula dalam kitab-kitab Weda Samhita dan kitab Wişņu-Purāna. "Tersebutlah Dewa Brahmā yang sedang marah kepada anak-anaknya yang diciptakannya pertama kali, yang tidak menghargai arti penciptaan dunia bagi semua makhluk. Akibat kemarahannya itu, tiba-tiba dari kening Brahma muncul seorang anak yang bersinar seperti Matahari. Anak yang baru “lahir” itu diberi nama Rudra. Dari tubuhnya yang setengah laki-laki dan setengah perempuan itu “lahir” anak berjumlah sebelas orang. Badan Rudra yang berjumlah sebelas itu, menurut kitab Wişņu-Purāna merupakan asal mula Ekadasa Rudra".
Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'

Dewa Wisnu

Dewa Wisnu
Dalam Trimurti Agama Hindu, Dewa Wisnu merupakan personifikasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam kapasitas Beliau sebagai pemelihara alam semesta.

Dewa Wisnu merupakan Dewa paling tinggi di dalam tradisi Waisnawa. Pengikut Adi Shankara memposisikan Beliau sebagai salah satu dari lima Dewa Utama. Beliau dipuja sebagai Dewa Tertinggi (Tuhan Yang Maha Esa) dalam weda Sruti seperti Taittiriya Shakha dan the Bhagavad Gita. Shakti Beliau adalah Dewi Laksmi, yang dikenal sebagai Dewi penguasa kemakmuran dan wahana Beliau adalah burung Garuda.

Vishnu Sahasranama menyatakan Beliau adalah Paramatma (Jiwa tertinggi) dan Parameshwara (Dewa tertinggi). Juga mendeskripsikan sebagai esensi utama dari semua bentuk, yang menguasai masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang, serta pencipta dan pelebur segalanya, yang menunjang alam semesta serta melahirkan semua element di dalamnya.

Di dalam Purana, Beliau digambarkan memiliki warna ilahi yang gelap, empat lengan, memegang bunga teratai, terompet, cakra dan gada. Beliau juga digambarkan dalam Bhagavad Gita memiliki wujud yang universal (Vishvarupa) yang berada diluar imajinasi manusia.

Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook, klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...